Cari Blog Ini

Sabtu, 06 November 2010

PENGUKURAN BATAS DAN PEMETAAN DETAIL

PENDAHULUAN

Latar Belakang
Ilmu geodesi memainkan peranan yang sangat penting dalam kehidupan kita yang modern dan juga terhadap cabang ilmu lainnya, seperti perencanaan, pembangunan, pemeliharaan sarana dan prasarana yang ada. Ilmu geodesi ini juga dapat dipakai dalam penyediaan titik kontrol untuk pemotretan udara dan dalam banyak hal lainnya yang berkaitan dengan bidang agronomi, arkeologi, astronomi, geografi, geologi, seismologi, dan kehutanan terlebih utama. Peranan ilmu geodesi dalam bidang kehutanan antara lain sebagai survey dan pemetaan hasil sumber daya hutan, serta sebagai bidang penataan hutan, survey potensi hutan, dan perencanaan hutan serta pemantauian dan evaluasi pelaksaan pengelolaan hutan dan sebagai teknologi informasi kehutanan.Yang menjadi dasar pengukuran adalah sejumlah titik-titik atau tugu tertentu dengan koordinatnya dan tingginya.
Tujuan pengukuran adalah jaringan triangulasi dilengkapi dengan data-data sehingga kita dapat menggambar peta. Tindakan pengukuran dapat dilakukan dengan cara pengukuran koordinat siku-siku (pengukuran orthogonal), pengukuran dengan koordinat polar dan fotogrametris udara.
Dalam penggambarannya, data dari pengukuran yang didapat dituangkan ke dalam peta. Kata peta berasal dari bahasa Yunani yang artinya adalah taplak meja. Dalam arti luas adalah sesuatu yang ada dituangkan dan dibentangkan sama seperti taplak meja di atas meja. Peta merupakan gambaran pada kertas dimana keadaan permukaan bumi dengan ukuran yang lebih kecil. Peta dewasa ini sudah tidak asing lagi. Peta merupakan miniatur keadaan suatu permukaan. Peta tidak hanya memuat suatu rangkaian keadaan di muka bumi, peta juga dapat dipakai dalam bidang lain.
Di dalam memperoleh data (pemetaan) terdapat dua cara, yaitu :
1.Cara terrestris yang seluruh data ukuran diperoleh dari hasil pengukuran lapangan, dan
2.Cara non–terrestris/fotogrametris dimana seluruh data ukuran diperoleh dari hasil foto udara/peta–peta tematik. Inilah kegunaan peta. Kita bisa mengamati suatu detail keadaan tanpa harus langsung datang ke lokasi sebenarnya.
Penentuan sejumlah titik–titik atau tugu tertentu dengan koordinatnya dan tingginya merupakan dasar dari pembuatan peta. Pengukuran memang merupakan jaringan tringulasi dilengkapi dengan data–data sehingga kita dapat menggambar peta. Tindakan ini dapat mengikuti tiga cara, yaitu :
1.Pengukuran koordinat siku–siku (pengukuran orthogonal)
2.Pengukuran dengan koordinat polar, dan
3.Fotogrametri udara.
Sebelum hasil pengukuran dipergunakan membuat peta, lebih dahulu harus diteliti tingkat kesalahannya. Penelitian dilakukan dengan menggambar poligon utama yang dua kali lebih besar daripada skala yang akan digunakan untuk pembuatan peta, supaya kesalahan yang mungkain dibuat nampak jelas. Penggambaran poligon utama dilakukan di atas kertas yang berkotak–kotak atau kertas millimeter. Untuk melihat kesalahan maka poligon utama digambar di antara tiap titik tertentu yang digunakan pada pengukuran yang disebut dengan seksi. Maka seksi yang salah saja yang akan diukur kembalim.
Guna dan arti peta tidak hanya memperlihatkan letak detail-detail buatan dan lain dalam bentuk alami seperti gunung, sungai, danau, dsb, melainkan memberikan juga bentuk dan keadaan daerah yang biasanya dapat kita lakukan dengan penentuan garis–garis kontur.

Tujuan
Adapun tujuan dari praktikum ini adalah untuk mengetahui bagaimana cara pembuatan peta tematik.

TINJAUAN PUSTAKA

Dalam melakukan pengukuran kolam, poligon utama tidak perlu diletakkan di salah satu tepi kolam itu. Yang harus dilakukan hanyalah pengukuran tepi kolam sebagai titik detail dari sebuah poligon yang titik–titiknya dibuat sedemikian rupa, sehingga dari titik–titik poligon yang ditempati oleh alat ukur dapat diukur sebanyak mungkin titik–titik detail lainnya. Adapun cara pembuatan peta adalah sebagai berikut :
1.Penelitian kehalusan pengukuran dengan menggambar poligon utama.
2.Setelah seksi poligon utama dianggap cukup teliti, berulah digambar titik–titik detail yang perlu pada pembuatan peta.
3.Sediakan kertas yang diatasnya telah dibuat titik–titik tertentu yang digunakan pada pengukuran.
4.Pemindahan keadaan dari poligon utama ke kertas peta menggunakan alat yang dinamakan pantograf.


5. Pemindahan dari gambar poligon ke peta adalah pemindahan dari skala besar ke skala kecil.
Pada gambar poligon hanya digambar titik–titik yang bersangkutan dengan pengukuran titik– titik poligon utama dan titik–titik detail, peta tidak digambar di atas peta polygon (Wongsotjitro, 1980).
Pada pembuatan peta terdapat berbagai orientasi pada peta, yaitu :
1.Orientasi pada udara geografi (sistem umum)
Utara peta berdasarkan pada arah utara geografi di titik awal atau titik nol system proyeksi peta.
2.Orientasi peta pada utara geografi (sistem setempat)
Utara peta didasarkan pada utara geografi di satu titik kerangka dasar tertentu.
3.Orientasi peta pada utara magnet (sistem setempat)
Utara peta didasarkan pada arah utara magnet di satu titik kerangka dasar tertentu
Sesuai dengan dimensi areal/persil yang akan diukur, maka pekerjaan pengukuran pada umumnya dibedakan dalam dua bagian pengklasifikasian seperti geodesi (geodetic survey) dan ilmu ukur tanah datar (plan survey). Pada hakekatnya, bola bumi itu mendekati bentuk ellipsoida putar, sehingga untuk pengukuran permukaan bumi kita harus menggunakan metode pengukuran pada bidang yang ellipsoida putar. Jadi dengan demikian pengukuran yang dilakukan di atas permukaan bumi harus mempertimbangkan bentuk lengkung permukaan bumi dan proses perhitungannya pun akan menjadi lebih sukar dibandingkan dengan pengukuran yang dilakukan pada bidang datar. Pada pengukuran areal yang tidak terlalu luas, lengkung permukaan bumi dianggap tidak terbatas sehingga dapat diterapkan metode pengukuran pada bidang datar dan dengan demikian angka-angka/data-data hasil pembacaan di lapangan dapat diproses dengan cara yang lebih mudah (Irvine, 1980).
Keadaan lapangan pengukuran merupakan salah satu pertimbangan untuk menentukan jumlah jalur poligon cabang maupun sipat datar yang harus dibuat (Moffit, 1980).
Pada suatu garis pengukuran dengan titik–titik mula dan titik–titik akhir sudah kita ketahui, kita mengukur semua titik yang ingin kita ketahui siku–siku pada garis pengukuran (pengukuran orthogonal). Pengukuran dilakukan dari satu posisi alat ukur (kedudukan alat ukur) sudut. Banyak titik yang dapat diukur dari satu posisi titik alat ukur yang dalam pengukuran biasanya menggunakan theodolit, baik digital maupun manual. Metode pengukuran banyak titik dari satu posisi alat ukur dinamakan metode koordinat polar. Metode ini dapat dipakai di lapangan yang cukup curam yang karena kecuramannya pengukuran dengan pita ukur tidak mungkin dilakukan dan ketelitiannya kurang. Metode pengukuran dengan koordinat polar ini dapat digunakan untuk menggambarkan keadaan suatu tempat yang memiliki keadaan alam yang bertopografi berbeda-beda. Pengukuran ini dilakukan untuk memetakan suatu tempat secara detail dengan membuat garis–garis jarak yang dihubungkan pada posisi stasiun (tempat alat). Dengan menghubungkan titik–titik yang diukur dengan suatu posisi alat ukur dengan titik–titik yang diukur dari posisi alat lainnya maka dapatlah digambarkan keadaan suatu tempat pada peta (Subagio, 2003).
Penggambaran umumnya dilakukan empat tahapan, yaitu menggambar kerangka dasar dengan menggunakan sistem koordinat kartesius dan menghsilkan gambar titik ikat, nomor titik ikat, ketinggiannya serta garis penghubung antar titik ikat tersebut secara berurutan. Penggambaran ini dilakukan di atas kertas millimeter block. Tahap kedua adalah plotting titik detail dengan menggunakan sistem grafis, yaitu menggunakan argumen jarak, sudut jurusan, dan beda tinggi antara titik ikat dengan titik detail yang bersangkutan. Tahap selanjutnya adalah menarik garis kontur yang didapat dari besaran bilangan skala yang ditentukan. Setelah semuanya selesai, maka hasil gambar ukur tersebut disalin ke atas kertas kalkir (Sinaga, 1992). Peta dengan skala besar sering dinamakan peta kadaster. Peta ini hanya menunjukkan batas–batas suatu tempat yang berupa benda, misalnya pagar, dinding pembatas, dan lain–lain. Batas yang digunakan yang berupa benda tidak selalu batas yang sah. Dalam pengukuran di lapangan sering terdapat rintangan yang menghalangi terlaksananya pengukuran. Hal ini menyebabkan kurang akuratnya data hasil pengukuran yang diperoleh. Rintangan pada pengukuran di lapangan adalah berupa bukit–bukit kecil, pohon, sungai, lintasan jalan kereta api, atau bangunan. Benda–benda seperti ini diusahakan untuk dihindarkan agar diperoleh hasil pengukuran yang akurat sesuai dengan keadaan lapangan. Peta harus memiliki garis tepi yang relatif lebih tebal daripada semua garis lainnya. Ini akan sangat menunjang penampilan dari peta tersebut (Abidin, 2001).
Dalam pengukuran batas sering terdapat kesalahan yang dilakukan oleh pengamat maupun yang terjadi karena kerusakan alat sehingga menghasilkan pengukuran yang tidak sesuai dengan keadaan lapangan. Kesalahan dalam pengukuran antara lain :
1.Kesalahan besar
Bacaan rambu yang salah, penggunaan benang silang yang salah, pencatatan yang salah, dan penulisan yang salah atau tidak ditulis.
2.Kesalahan tetap
Tidak vertikalnya rambu, kesalahan kolimasi pada rambu, dan kesalahan penskalaan.
3.Kesalahan acak
Pengaruh angin dan suhu tanah, titik tukar dan kesalahan pengamat. (Sasrodarsono, 1992

Tidak ada komentar:

Posting Komentar